Karena teman itu seperti ini

Mungkin cerita soal pertemanan udah basi. Basi banget. Atau cerita tentang perjalanan naik gunung, yang buat para pendaki juga cerita basi. Tapi buat saya apa salahnya berbagi?.🙂

Hari itu pada tanggal yang telah di tetapkan 5 pria labil akan naik gunung. Gunung Lawu namanya. Terletak di Provinsi Jawa Tengah. Di kabupaten Karang Anyar. Konon kabarnya, ini adalah gunung terdingin di Jawa Tengah. Saya sempat sedikit memilki keraguan. Jujur saja, saya belum pernah naek gunung. Saya hanya mendaki bukit dan menuruni lembah seperti ninja Hattori. Maklum saya berasal dari Padang. Dan semasa saya masih imut-imut dulu di Padang, semua gunung sedang aktif. Alhasil, saya tak pernah naik gunung dan tak akan pernah di izinkan. Dan bahkan pas naek gunung Lawu pun saya gak minta izin Bundo (saya memanggil Ibu saya dengan sebutan seperti ini). Dan makanya saya sempat berpesan kepada beberapa teman, kalau saya gak pulang sesuai jadwal, ada surat wasiat saya di laptop. Tapi sebenarnya saya tak pernah nulis wasiat apa pun.😀

5 Pria tersebut adalah saya, Dhani Sinambela (poltak), Salman(Mamet), Ageng(Suw) dan Arbi. Seperti yang sudah di bilang tadi kami adalah pria labil.

Start mulai dari jam 9 malam, di mulai dari kaki gunung lawu. Perlengkapan sudah lengkap dan berangkat!. Perjalanan dari basecamp sampai pos 1 sangatlah cepat. Medan yang kami lalui pun belum terlalu sulit. Bahkan orang yang paling berpengalaman diantara kami, Dhani pun takjub, maklum do’i sudah malang melintang di dunia pergunungan, dan liat saja wajahnya keras, bagaikan batu karang. Dan suaranya yang sangat pas jadi knek metro mini.
*Dan sedikit mengesalkan*->pengen nabok.
Pada akhirnya kami berjalan sekitar 1 jam kurang. Kami sampai di pos 1, istirahat lima menit, menghilangkan dahaga dengan air putih, merokok, dan …
Choki-Choki. Ada yg ingat Choki-choki?. Sejenis coklat cair yang kalau di ise-isep bakalan enak. Dan kami akhirnya membuat tagline sendiri.. “Choki-Choki, cemilannya para pendaki!”.

Istirahat 5 menit, membuat badan sudah dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan lagi, daripada kedinginan, dan membuat badan sedikit jadi kaku dan bisa mengakibatkan kram. Proses jalan dari pos 1 ke pos 2 pun sama, sangat cepat. Meskipun sempat beberapa kali “break” alias istirahat. Tapi perjalanan di tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Sesampainya di pos 2 kami sitirahat, dan berencana menginap di pos 2.
*Tips : Istirahatlah secukupnya. Karena istirahat terlalu lama dapat menyebabkan badan menjadi kaku.
“Assalamu’alaikum..” ternyata gak ada yang jawab, meskipun sebenarnya kami pun berharap gak ada yang ngejawab. Tapi di pos 2 sebenarnya ada satu tenda, berarti ada juga teman sesama pendaki yang sedang berisitirahat di sana. Tugas pun di bagi : Dhani dan Arbi memasang tenda, Salman memasak, saya dan Ageng cari kayu bakar.
Akhirnya semua sudah terkumpul, dan kami memasak. Makanan pokok para pendaki pun langusng di keluarkan. Yaitu Mie!. Sempat terjadi perbedaan pendapat soal apa yang akan di minum, kopi atau teh. Akhirnya masak dua-duanya.

Setelah sesi makan-makan selesai sambil menikmati lagu dari Bryan adam dan Mr Big dari henpon saya, kami masuk tenda, tentunya untuk berisitirahat.

Semuanya sudah berisitrahat, sampai pada akhirnya….

Sekitar subuh jam 4 pagi seorang teman, Fariz, (nama di samarkan) bilang : “Ndi, temenenin gue kencing donks”.

Sekilas tentang Fariz, pria yang tumbuh di Jakarta ini adalah penggemar film horror, dan segala hal yang berbau horror pokoknya. Pertanyaanya, “ Kenapa do’i minta temenin pipis ma gue, yang sangat penakut kalau di suguhi film horror. Akhirnya saya bilang “Waduh jangan gue don Riz”.
Fariz pun membangunkan Dhani “Tak , temenin gue pipis donks”. Dan jawaban poltak adalah…
“Lho kok aku toh Riz?.”

Tapi mau tak mau tetep Dhani yang nemenin, karena dia berposisi sebagai suhu. Beberapa saat kemudian 2 pria labil ini masuk ke dalam tenda, dan dengan suara berat yang diakibatkan kantuk dan menemani Fariz pipis dengan setengah hati bilang “Bulannya terang benderang!.”
Mau-mau tak mau saya pun mendengarkannya dan saya pun langsung membayangkan akan ada 2 serigala yang hadir dan siap menerkam kami yang sedang tertidur lucu ini. Tapi saya hilangkan pikiran itu.

Matahari lebih cepat terbit ketika kita berada di kaki gunung. “Pagi!!”, saya berteriak di kuping teman-teman yang masih tertidur. Setelah itu saya tidur lagi. Tapi gak bisa tidur, karena suara kentut dari teman-teman pendaki lain yang nge-camp di pos 2 mulai belepotan. Setelah berkenalan 2 pendaki lainnya itu menamakan diri mereka “kurcaci.” Berusia sekitar 30-an, tubuh tambun, dan mereka juga dari Yogya.
Kami sudah mulai memasak, sementara para kurcaci sudah memulai perjalanan mereka. Setelah beres-beres kami pun menyempatkan berfoto-foto di pos 2, kenang-kenangan buat anak cucu nanti.

Foto-foto di pos 2😀

*Tips naik gunung lawu : Jika ingin berisitirahat, istirahatlah di pos 2. Pos ini tidak terlalu terbuka alias di kelilingi sama pohon-pohon, dan rerumputan tinggi. Tujuannya adalah supaya kita gak kedinginan, dan atau pun ada badai kecil, setidaknya kita bisa berlindung.

Perjalanan ke pos 3 di mulai, di sini kami mulai banyak berhenti. Selain medan yang sudah mulai tampak sulit, karena ini masih pagi. Dan akhirnya terdapatlah sebuah kesimpulan yang di buat di otak saya : “Kalau saja ini malam hari, kami pasti gak akan berhenti terlalu banyak.” Kenapa?
Karena kami takut!.

Di sepanjang perjalanan yang paling sering komat-kamit adalah Ageng. Nyerocos sana-sini, kadang-kadang menjadi pahlawan lingkungan, tiba-tiba berubah jad squidward, dan bahkan mampu menorobos pandangan mata melihat 2 celana dalam yang nyangkut di pohon. Ya!. Hanya do’i yang bisa ngeliat celana dalam sampai beha berserakan.
*Salut Geng*

Tapi di satu sisi Ageng ada lah entertainer kalau di saat kami sedang “break” alias istirahat.

Sampai di pos 3 kami istirahat, perjalanan mulai terasa berat. Sedang santai berisitirahat, orang paling berpengalaman Dhani bilang “ Untungkan kita gak nge-post di sini ( post 3), liatlah, tempatnya terbuka.” Benar saja. Tak ada pohon-pohon yang melindungi. Sampai pada akhirnya kami di kagetkan oleh….

Sesosok tubuh yang tampak rapuh bergaya pasukan Nippon di jaman tempoe dioeloe muncul, sambil membawa tas-tas yang di ikatkan ke kayu, persis seperti mamang tukang sayur yang terkadang masih kita temui.
Kami pun mlongo dan bilang “Becanda ini, becanda.”
Bapak ini mampu membawa 4 tas ransel yang di ikatkan ke kayu dan disandangannya.
Bapak itu masih terengah-engah dan duduk diantara kami. Kami menawarkan roti yang dari tadi kami kunyah bersama angin yang masuk ke tubuh kami dan bisa mengakibatkan kentut berkepanjangan. Kami asik bercerita dengan bapak ini, ternyata belaiu adalah poter yang bertugaskan membawa tas para rombongan dari bapak Adhyaksa Dault yang di undang buat naek gunung demi sebuah acara. Sebelumnya menurut yang beliau ceritakan, bapak ini telah membawa kambing dan mesin diesel.
*Mangstap!
Bapak tersebut menceritakan lagi ada rombongan dari wartawan yang akan datang. Mendengar kata wartawan 5 pria labil ini pun langsung punya tujuan yang sama. Masuk Tv!.
Misinya adalah : Menjadikan bapak Adhyaksa dault sebagai endorser dari tagline yang telah kami ciptakan yaitu “Choki-Choki. Cemilannya para pendaki!.”
Di sela kami asik ngobrol, nongol lah seorang bapak berkumis, dengan tas, botol aqua di tangan , dan slayer kuning yang terikat di lehernya, sambil terengah-engah.
“Ini bapak Adhyaksa?,” Ageng menanyakannya sambil berbisik kenan.
*Tuh kan!, saya sudah menduga hal ini akan terjadi.*
Yang pasti berdasarkan ke sok tahuan saya, bapak ini adalah Tanri Abeng, Mantan mentri BUMN, apalagi dengan kaos kemeja yang di pakai si bapak dan slayer yang melingkar di lehernya, seperti melambangkan sebiah organisasi.
Kami pun ngbrol dengan bapak ini, dan do’i bilang dia adalah rombongan pak Adhyaksa.
Satu moment yang paling berkesan adalah ketika dia bertanya : “Ini dari mana?.”
“Dari Jogja pak.”
“Ooo, satu kampus?.”
“Bukan pak.”
“Satu daerah?.”
“Bukan pak, tapi satu kost.”
“Wow, kok bisa?, chemistrynya kuat banget.”
*Sumpah saya gak bohong pas si bapak ini bilang begitu, dan kata-kata itu masih terekam tak pernah mati di kepala saya.

“Hehehe.” Kami cengengesan.
Satu hal yang mungkin harus di ketahui, 5 pria labil ini tidak satu kost lagi. Dan saya pun tidak tau kenapa bapak berkumis itu bilang “chemistry”nya kuat. Mungkin dia blum pernah satu kost bersama kami. Jadinya do’i gak tau 5 pria labil ini hidup di tengah perbedaan yang begitu besar, dan sebenarnya gak ada pernyataan “chemisty “ kami kuat. Tapi ya itulah kami. Itulah teman. Di tengah perbedaan yang ada. Karena teman itu seperti ini.

Bersama di pos 3.

*Tips : Alangkah baiknya kita ngak nge-camp di post 3, tempat ini terlalu terbuka alias tidak terlindung oleh pohon-pohon besar atau rumput-rumput tinggi. Kalau kita ngge-camp di sini, coba aja deh, paling ntar kena efek menggigil.
Efek menggigil? Pengen tau? Lanjutin bacanya

Perjalanan menuju pos 4. Kali ini medannya sudah mulai terasa sulit. Kami seringkali istirahat. Sambil berfoto-foto tentunya. Di sinilah mental dan sisi seorang manusia di uji, Mengeluh. Mengeluh tak akan pernah menghasilkan apa pun. Apalagi saat kita berada di alam.
Menuju pos 4, hujan mulai turun, kabut mulai naik, jalan yang kami lalui terjal, letih, tapi harus tetap sampai di pos4, jika tidak kabut bisa menghalangi perjalanan kami, apalagi dengan posisi kami yang secara individu jaraknya cukup jauh. Sampai akhirnya Arbi bilang “Hoii posss!!.”
Denger teriakan begitu semangat pun mulai naik lagi, bapak berkumis yang di kira Ageng pak Adhyaksa, dan yang menurut saya Tanri Abeng, menyusul kami. Kami pun dengan sesegera mungkin berjalan dengan cepat menuju pos 4. Dan kami bersukur, ketika kami sudah sampai di pos 4, hujan deras mengguyur, kabut tebal menyelimuti daerah sekitar. Kami berteduh di pos 4. Sangat dingin!. Kopi panas, mie roti dan beberapa batang rokok.
Kali ini kami bertemu lagi dengan pendaki yang nge-camp di pos 2. Ya!. Para kurcaci.
Kami membentangkan seng, yang sudah ambruk di terjang badai sebagai alas, bapak berkumis pun ikut menikmati secangkir teh buatan para kurcaci untuk menemani dinginnya suhu udara.
Sesaat kemudian hujan mulai reda, kabut mulai lenyap, bapak bergaya Nippon tersebut nongol.
Matahari mulai menyinari pos 4. Rombongan pak Adhyaksa satu per satu bermunculan nongol. Yang terlihat adalah anak-anak muda, yang menurut perkiraan saya berusia sekitar 20-22 tahun, atau mungkin masih sma. Menurut bapak berkumis yang mirip Adhyaksa, ini adalah anak-anak dari rombongan yang ikut pak Adhyaksa. Kami sempat berfoto-foto di sini, pemandangannya indah.

Fot bareng di daerah post 4.

Bentang alam tampak nikmat oleh mata setelah kabut menghilang.

*Tips : Alangkah baiknya jangan nge-camp di pos 4, daerahnya terlalu terbuka, badai, atau kabut tebal di sertai hujan deras akan membuat suhu udara sangat dingin. Sama dengan pos 3.

Puas dengan sesi foto-foto perjalanan lanjut ke pos 5, pos terakhir menuju puncak gunung lawu., Bapak berdandan ala Nippon menyalakan dupa, kali ini dia melatakkan di dekat 2 makam. Makam ini adalah makam pendaki yang hilang atau apa pun lah kita menyebutnya, saat ia mendaki gunung lawu.
Dhani berbisik :” Mistisnya kuat di sini.”
Fokus! Itu yang akan di perlukan.

Perjalanan dari pos 4 ke 5 cukup singkat. Tidak terlalu terjal medannya. Santai saja.

Begitu sampai di pos 5 ada 2 jalur yang bisa di tempuh untuk nyampai di puncaknya. Jalur terjal, tapi cepat sampainya, atau jalur biasa, yang bikin lama sampainya. Ada dilema di sini, Arbi mulai gak enak badan. Demam dan bercampur flu. Atas dasar pertimbangan itu lah kita ngelintasi jalur yang biasa. Sempat terjadi perdebatan antara Dhani dan Arbi di sini. Dua-duanya sudah pernah naik gunung lawu, dan masing-masing keras kepala dengan jalan yang akan di lalui. Perdebatan ini bikin saya, Salman, dan Ageng cuma bisa ngikutin Dhani.
Sebagai suhu, tentunya dia jadi panutan, dan kalau pun terjadi apa-apa pada kami yang di salahkan adalah Dhani. Pada akhirnya kami berteduh di rumah rombongan pak Adhyaksa karena hujan deras, kabut tebal, dan Arbi butuh istirahat sebentar karena do’i gak fit banget.

Ya seperti yang saya bilang tadi di tengah perbedaan dan keras kepalanya kami sebagai seorang manusia. Tapi kami tetap bersatu. Selayaknya manusia biasa yang saling membutuhkan. Dan itulah teman.

Hujan mulai reda, saya mengusulkan perjalanan harus di lanjutkan, waktu udah nunjukin setengah 5 sore. Tapi sarat kalau pengen nyampe di puncak adalah : mau gak mau harus ngelewatin medan yang sulit. Dan Arbi yang sedang tidak fit harus ikut. Ujian lagi buat manusia kayak kita, jangan mengeluh!. Fatah ( nama samaran ) mulai deh. Mungkin dari sisi subjektif saya yang selama perjalanan gak banyak bacot, menilai teman saya yang satu ini terlalu banyak omong.

Sampai pada akhirnya Dhani melaju sendirian, sisanya ngekor di belakang, dan Fatah kembali berkomat-kamit ngoceh dan ngeluh. Sebelum posisi kami berempat dari Dhani agak jauh, Dhani sempat bilang sambil ngos-ngosan : “Jangan ngeluh kalau udah di gunung.” Balasan saya sederhana. Saya hanya mengacungkan jempol tangan saya, menandakan setuju. Soalnya mau ngomong, nafas udah susah diatur, gak semudah ngatur pas main futsal.
Ya!. Jangan mengeluh!.

Dan setelah itu Dhani melaju sendirian dan teriak “ Ikutin saja jalurnya dan fokus!.” Dan do’i menghilang. Kami berempat pun mengikuti jalurnya dan tetap fokus. Sekali lagi kabut mulai naik, hujan rintik-rintik. Mungkin dalan hati kami terbesit kata “ Dooohh.. masih jauh gak siiii?.”Jujur saja sempat terlintas hal itu di pikiran dan hati saya, tapi buru-buru saya buang jauh-jauh.
Karena apa?. “Karena kita lebih baik tidak mengeluh!.”
Kami terus mendaki.

Sampai pada akhirnya terdengar suara samar-samar khas Dhani yang memang pantes jadi knek metro mini. “Oiii, puncaaaakkk!!.”

Kami masih berjuang mendaki, Sampai akhirnya kami melihat semacam gapura kecil yang terangkai dari bongkahan batu-batu, setelah mencapai tempat itu, sudah terlihat beberapa pendaki lainnya sedang memasang tenda.
“Ayo kita cari space buat tenda.” Dhani mengajak.

Tapi dasar pria labil, kami langsung ke pucak, dan melihat pemandangan dari atas. Di balik wajah letih dan pundak lesu kami, terpancar sedikit kegembiraan. Di sana kami bertemu dengan 4 bule Amerika, 3 cewek dan 1 cowok. Berbincang-bincang sebentar, lalu mereka turun, dan kami pun turun,

Tenda sudah terpasang. Tapi udara dingin memaksa kami hanya menumpuk di dalam tenda. Apalagi di sini tempatnya terbuka banget. Kami berharap ada rumah-rumah yang terbuat dari seng yang akan menjadi pelapis pertama. Tapi sekarang rumah seng itu sudah hancur di terjang badai. Alhasil tenda di pasang diantara semak-semak.
Acara masak-memasak, makan-memakan sudah selesai, lalu apa lagi. Kami terkurung dalam tenda akibat suhu udara yang di perkirakan sekitar 5-10 derajat. Saat itu hanya 2 orang yang berada dalam kondisi fit. Saya dan Dhani. Sisanya sudah menenggak paracetamol. Obat khusus buat demam.
Dan sebelum kita ngumpul di tenda, ada suatu kewajiban yang harus di tunaikan yaitu…
Pipis!.
Saat itu pula lah petir mulai berdatangan, suara guntur menggelegar.
“Petirnya ada di mana Ndi?.” Tanya Dhani
“Di bawah!.”
*Kalau kita sudah berada di puncak gunung, kita bisa ngeliat petir di bawah kaki kita lhoooohh*

Setelah semuanya masuk ke dalam tenda prediksi itu meleset total!. Sekarang petir pas persis di atas kita. Suara – suara hujan mulai dari rintik-rintik doank udah mulai berdentum di atas tenda. Dingin. Dhani keluar sebentar, dan entah apa yang di lakukan do’i.
Tapi begitu masuk ke dalam tenda lagi, do’i menggigil
Dan saya pun ikut terprovokasi. Dalam hati saya komat-kamit. Sambil memejamkan mata tentunya. Dan sesekali saya membuka satu mata dan melihat di sekeliling, Dhani, Arbi, dan Ageng udah ngumpet di balik sleeping bag. Sedangkan saya memasukkan dua tangan ke dalam celana yang terdiri dari 3 lapis, kolor, celana basket, dan celana jeans.

Sedangkan salman tidur sambil duduk, menurut do’i cara yang seperti itu cukup ampuh menahan dingin. O ya. Diantara kami berlima hanya saya dan Salman yang nggak bawa sleeping bag.

*Tips : kalau pengen naik gunung, jangan lupa bawa sleeping bag, jas hujan, dan jenis pakaian yang bisa membuat kita hangat. Tapi jangan bawa karpet ya, ntar kalau nyandang ransel bisa linglung kiri-kanan.

Hujan semakin deras.Menurut pandangan satu mata hanya saya dan Salman yang tampak belum tertidur pulas. Yang lainnya??
Meneketehek!. Gimana mau ngeliatnya coba? Sekujur tubuh mereka ketutup sama sleeping bag.

Sesekali saya melihat ke langit-langit tenda. Siapa tau ngeliat tante kunti atau Om gende dan bilang “Tarrraaaaa, happy new year!!.”
*tepok jidat*.
Dan akhirnya kami semua tertidur. Dan tiba-tiba…..
“Eh tau gag si lo, sekarang baru jam 11 malam!”\
Sebuah suara dari sebelah kiri saya dan dia adalah Dhani
*Dem!*
Rasa sedikit putus asa dengan menyelipkan kata “Asssem masih lama yak paginya?.” -> kebelet pengen liat sunset.

Oh ya selama berada di dalam tenda di puncak kita punya sebuah efek. Namanya “efek menggigil”. Di mulai dari efek Arbi yang emang lagi sakit lalu menggumam dan menggigil. Di lanjutkan dengan dengan Salman. Kalau Salman wajar donks, karena do’i gak bawa sleeping bag. Yang kasian si Ageng, udah bawa Sleeping bag dan tidurnya diantara 2 makhluk yang gak bawa sleeping bag, yaitu saya dan Salman. Jadilah Ageng akhirnya ngikutin irama dari “efek menggigil.”
Hujan semakin deras dan …
Tendanya emang gak bocor, tapi resapan air hujan dari tanah yang bikin satu tenda terbangun dan kelimpungan. Nyari tisu, buat nge-lap, meskipun gak ada gunanya. Dan kami akhirnya rela, sarung tangan, jaket, kaos kaki, dan benda-benda lainnya yang menempel di tubuh kami jadi …
Bau apek!.
Ya!, itu terjadi di saat pagi hari. Saat Dhani kembali beraksi dengan suara khas knek metro mininya : “Sunset!, sunset!, sunset!.”

Dan betapa indahnya ketika kita masih dianugrahi untuk melihat matahari yang sama di setiap pagi.

Bersama melihat matahari yang sama 1

Matahari terbit

Bersama di puncak prasasti gunung lawu

Dan bersukurlah pada alam kita. Mereka masih mau berbaik hati dengan manusia-manusia yang seperti melupakannya begitu saja. Sebagian manusia yang hanya bisa mengomel, mengeluh, dan cari masalah. Dan sebagian manusia yang hanya bisa sok jaim, sok suci dan segalanya.

Lihatlah!.

Liat sebagian pemandangan alam kita ini.

Apa pun itu, siapa pun itu, dan dimana pun itu.

“Karena teman itu seperti ini.”


Karena teman itu seperti ini 2

8 tanggapan untuk “Karena teman itu seperti ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s