Yang tersisa dari lereng merapi 11/12/2010

Erupsi merapi sudah selesai dan inilah yang terjadi. Memasuki daerah kerusakan di lereng merapi, saya sempat bertanya-tanya daerah bebeng dimana, daerah kali kuning dimana?

“Eh, bunkernya dimana”. Bahkan teman saya yang sejak zaman sma sering main ke lereng merapi ni saja sudah tidak bisa lagi membedakan tempat-tempat tersebut. Semuanya tampak sama.

Sampai pada akhirnya kami menemukan seorang bapak bersama anaknya memilih tidur di atas tanah bekas rumah mereka. Pihak polisi dan seorang tentara, berulang kali membujuk keluarga tersebut, untuk tidak menetap disana. Tapi, bapak itu mungkin masih merasa hamparan tanah kosong itu adalah rumah mereka. Keluarga tersebut masih mencintai tanah mereka. Tanah lereng merapi, di Jogja, Indonesia.

Tapi, sekarang bagian lereng merapi ini sudah menjadi tempat wisata. Keingin tauan masyarakat tentang apa yang terjadi sebenarnya. Seperti ingin melihat kediaman rumah (Alm.) Mbah Maridjan.

Bagian ini adalah bagian dimana tanahnya mash panas, dan bau menyengat dari gas belerang .

“Mas!, naik mas!, jangan kesana lagi!, masih panas!.” Begitulah teriakan seorang petugas ketika saya dan teman saya mencoba untuk berjalan lebih jauh lagi, melewati tanah yang masih panas. Dan memang sangat terasa sekali, tanah dan beberapa batu besar masih panas.

Kami bertemu dengan seorang Ibu-ibu yang biasanya memiliki warung di sekitaran kali kuning. Syukurlah, keluarga ibu ini semuanya selamat, karena mereka ikut mengungsi. Tapi rumah dan warung mereka di pingiran kali kuning, sudah rusak. Satu hal positif yang didapat adalah si Ibu ini, selalu tersenyum. Senyuman ramah khas Jogja, yang tak pernah hilang Bahkan dalam beberapa kali obrolan, beliau masih bisa tertawa lepas mengingat apa yang pernah kami lakukan dulu di sekitaran kali kuning. Bahkan beliau sekarang menjajakan beberapa minuman ringan, untuk para wisatawan yang ingin berkunjung ke lereng merapi, setelah merapi dinyatakan aman. Dari hal tersebut, terlihat, bahwa semboyan “hidup terus berlanjut”, tampak terlihat dari si Ibu ini. Tidak tampak wajah stress, tatapan kosong, melihat kenyataan hidup yang harus dialaminya. Si ibu ini masih tersenyum dengan tulus, tanpa harus mengomel , mengeluh dan berharap iba akan nasibnya. Tidak hanya si Ibu itu saja, beberapa warga lereng merapi yang menjual jasa ojek untuk para wisatawan, tetap melempar senyum, meskipun kami tidak kenal, saat saling bersapa. Sebuah senyuman khas Jogja, yang ramah.

Dan kini tanaman hijau, siap membuat lereng merapi segar kembali, dan menandakan kehidupan kembali berputar.

7 tanggapan untuk “Yang tersisa dari lereng merapi 11/12/2010

  1. duh gak tega kalo liat yang sedih-sedih gitu.. mungkin aku nggak cocok jadi relawan kali yah..?
    biasanya memang orang pedalaman kebanyakan terlalu mencintai tempat tinggal mereka, sehingga walaupun sudah luluh lantak pun mereka tetap setia..

    Suka

    1. Ya mas, seperti itulah, pemda setempat sedang mengusahakan yang terbaik saat ini bagi penduduk di lereng merapi. Selain itu juga sudah dibangun hunian sementara untuk korban yang kehilangan tempat tinggalnya di sekitar lereng merapi.🙂

      Salam.

      Suka

  2. sekarang bahaya banjir dingin Mas yang mengancam daerah selatan Merapi….td bc2 da 2km di utara Candi Prambanan tumpukan material lahar dari Merapi….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s