Naik kereta api tut..tut…tut

Siapa bilang naik kereta api nggak seru. Terutama kereta api kelas ekonomi dan bisnis. Kalau eksekutif mah, gak ada yang menantang adrenalin. Tinggal duduk manis, selonjor kaki, pasang selimut. Selesai.
Tapi kalau naik kereta kelas ekonomi dan bisnis, nah ini dia.
Ada beberapa hal yang mungkin kiranya bisa menjadi panduan naik kereta ekonomi :
1. Sebelum berangkat persiapkan segalanya. *standar banget.
2. Berapa karcis kereta ekonomi?. Harganya masih belum naik. Siapkan saja uang sekitar Rp. 35.000, dan sekitar Rp. 15. 000, untuk jajan. Misalnya seperti mijone, sepirit, aqua dingin, pocari (Khusus untuk pocari, untung yang jual gak teriak “Irfan Bachdim!”)
3. Di dalam kereta ekonomi gak ada ac seperti di kereta kelas eksekutif, atau kipas angin di kereta jenis kelas bisnis. Jadi, bawalah kipas sendiri, bisa dari koran, kipas, dll.
4. Di kereta ekonomi akan sangat ramai sekali seliweran para pedagang yang lagi mencari rezeki. Jika ingin jajan yang murmer, tahanlah rasa lapar hingga stasiun Purwokerto. Karena ada mamang nasi goreng yang jual satu bungkus nasi goreng dengan harga yang cuma Rp. 3.000!. *lumayan buat ganjel perut. Sisanya, kalau pada pengen makan yang lain, seperti nasi ayam anget, nasi telor anget, nasi rendang, harganya berkisar Rp. 5.000 – Rp 6.000.
5. Di kereta ekonomi, kita gak bisa selonjor sesuka hati, karena duduknya adep-adepan dengan orang lain, dan hampir tidak ada space untuk ngangkangin kaki. Kalau pengen ngangkangin kaki, harus pinter cari-cari celah, dan salah satunya adalah meletakkan kaki diantara selangkangan orang lain.
Kalau pengen cara lain, silahkan selonjorin tuh kaki di depan muka orang, atau di kiri dan kanan kita. Dan berharaplah semoga tidak terjadi kerusuhan dalam satu gerbong. *Selamat mencoba.
6. Di kereta Ekonomi biasanya berlaku sebuah sistem, “meskipun gak ada tiket, tapi bisa tetep naik kereta.” Ataupun sebenarnya tidak tempat duduk lagi, karcis tetep dijual.” Oleh karena itu di dalam kereta ekonomi akan empot-empotan, sengol-sengolan atau hal-hal lainnya ketika kereta ini ngerem. *Resiko naik kereta tanpa tiket dan ketahuan sama petugas adalah sangat manusiawi sekali, cuma bayar 20 rebu perak, meskipun jaraknya jauh atau pun dekat. Semua hal ini bisa dinegoisasikan ulang dengan pihak-pihak terkait. Tergantung bagaimana cara kita bernegoisasi dan berkomunikasi.
7. Kalau naik kereta ekonomi, hampir di setiap stasiun baik stasiun kecil atau pun besar akan ngetem. Selamat menikmati setiap pemandangan di setiap stasiun tersebut.
8. Berdo’alah bertemu dengan orang yang sedang “frustasi” di dalam satu gerbong, karena gak kebagian temapt duduk. Terkadang orang yang “frustasi” ini akan bercuap-cuap dan lucu. Setidaknya, lucunya gak dibuat-buat.

Noted :

Semenjak BHD a.k.a Bambang Hendarso Danuri menjadi dirut PT. KAI ( Kereta Api Indonesia) ada peraturan baru yang dikeluarkan oleh mantan kapolri yang kabarnya mengkalim sangat sukses memberantas teroris dan belum sukses memberantas masalah rekening gendut ini. Yaitu :
“Pesan tiket kereta ekonomi, dua hari sebelum jadwal keberangkatan.”
Jangan seperti diriku yang cuek bebek pesan tiket kereta ekonomi hanya sejam sebelum keberangkatan. Pengalamannya adalah gak dapet tempat duduk. Tapi gak berdiri kok. Karena yang punya tempat duduk asli gak dateng saat itu. Dan akhirnya I’am the lucky bastards.Tapi, bagi yang pengen nyoba berdiri dari tempat keberangkatan ke tempat tujuan , ya silahkan.

Jikalau bawa gadget keren, tolong dijaga, baik itu di dalam tas, atau pun dalam kantong celana. Jagalah “barang” anda sebaik mungkin, dan jangan biarkan orang lain untuk menyentuhnya.

Dan sewaktu kereta ini ngetem di stasiun karawang, nggak ngeliat tuh arwah goyang karawang.

Kereta Bisnis.
1. Persiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat.
2. Harga tiket kereta api bisnis berkisar diantara Rp. 130.000 – Rp. 150.000. Kecuali menjelang wikend, bisa naik sekitar Rp. 170.000
3. Kereta bisnis sudah dilengkapi kipas angin, dan tidak perlu khawatir kalau kepanasan. Kalau masih kepanasan, silahkeun bawa sendiri ac dari rumah.
4. Hampir sama dengan kereta kelas ekonomi. Di kereta bisnis kita akan menjumpai para pedagang yang menjual berbagai variasi minuman dan makanan. Etapi tidak ada steak, sushi, atau bir dingin disini. Saya berharap ketemu dengan mamang nasi goreng yang jualin dagangannya cuma 3 rebu perak di stasiun Purwokerto, tapi beliau tak datang saat itu.
5. Di kereta kelas bisnis kita “lumayan bisa selonjor kaki”, meskipun tempatnya gak terlalu bebas. Tapi setidaknya, kita gak perlu selonjorin kaki diantara selangkangan orang lain. Kalau penumpang kereta bisnis lagi sepi, cobalah memutar balik kursi yang didepan kita, maka kursi yang tak berpenumpang tersebut bisa menjadi sandaran kaki. *Sandaran kaki sementara waktu*. Karena mungkin ada penumpang lain yang naik di stasiun yang berbeda, dan kita harus memberikan kursi tersebut kepada si penumpang yang sudah memesan kursi, karena itu hak mereka.

Begitulah dua kereta ini yang masih mempertahankan bunyi “tut..tut..gojes…gojes.” Seperti sebuah lagu dijaman masih kecil, “naik kereta api, tut..tut..tut.”
Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi stasiun kereta api terdekat, dan cobalah.
Begitulah.

6 tanggapan untuk “Naik kereta api tut..tut…tut

  1. Wah pesan saya sih jangan naik kereta ekonomi atau bisnis pas lebaran.. Bisa jadi keripik udang..

    Ooo baru tahu soal BHD jadi dirut kereta api, semoga enggak ada teroris di kereta. Lho!?!????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s