Karakter Sepakbola Kita (Indonesia)

Semua dimulai dari twitt teman saya di lini masa, dan makanya saya tulis yang beginian.
“Coach RD, jadilah pelatih timnas senior kami. We believe in You”. *RD = Rahmad Darmawan ( eks pelatih Persipura, Sriwijaya Fc, Persija Jakarta)*
Jauh hari sebelumnya, seorang editor dari media ternama sempat bilang di twittnya “ In RD we trust.”
Masalahnya apakah di RD semuanya menjadi baik?. Semuanya bermula soal sepakbola. Olahraga paling digemari di republik berpenduduk sekitar 240 juta. Euforia piala Asia 2007, euforia piala AFF 2011, dan terkahir Sea Games. Jauh sebelum RD sesukses ini membawa sepakbola kita “semaki digilai”, kita punya Ivan Kolev, kita punya Alfred Riedl. Tapi?. RD?. Belum tentu bung!. Ini bukan soal siapa pelatih, Ini soal karakter sepakbola. Kalau kita punya karakter, main dimana pun, gak Cuma di kandang kita pasti bisa meraih hasil yang positif.

Karakter tidak hanya bicara teknis soal sepakbola, contohnya komentator, masih banyak yang sering salah sebut pemain, meskipun kerjaanya sehari-hari jadi komentator. Sepakbola pulak. Beberapa komentator masih ada yang sering menyebuut “skipper” atau “capitano” untuk kapten klub-klub di Indonesia bahkan timnas. Usul aja, lebih baik diganti jadi Kapitan (kapitan Pattimura), jauh lebih berkarakter Indonesia menurut saya.

Suporter sepakbola Indonesia?. Baik yang setia atau pun yang dadakan. Suporter Indonesia punya karakter?. Bagaimana saat timnas Indonesia yang dipersiapkan ke olimpiade saat itu ( pelatihnya Alfred Riedl)?. Gak kedengaran tuh suaranya supporter Indonesia, baik di dunia nyata atau dunia maya ( jejaring social kek twitter atau facebook)
Soal karakter sepakbola Indonesia, ada baiknya dimulai dengan hal-hal sderhana yang terkadang kita sering gak tu, gak mau tau, atau memang gak peduli. Seperti adik-adik kita yang punya prestasi sepakbola bagus. Ac Milan junior camp dari Indonesia, beberapa waktu yang lalu baru saja membawa pulang piala ke tanah air. Arsenal junior Indonesia juga tak kalah bagus. Siapa?. Kalian, kita, kami itulah karakter sepakbola Indonesia non teknis. Ketika pengurus sepakbola Indonesia dianggap bagi sebagian orang gak becus mengurus sepakbola Indonesia, hanya kalian, kita dan kami sepakbola itu punya karakter. Pelajaran sederhana sebagai contoh, gak dapet tiket terus bikin rusuh?, harga tiket naik, ngomel-ngomel?, Timnas gagal pengurus dianggap gak becus, emang situ bisa ngurus sepakbola?, Presiden datang ke Stadion dianggap kutukan atau seperti twit teman saya “GBK = Goblok Banget Kamu”, dan masih banyak lain-lainnya. Kita belum punya karakter yang positif soal itu.

Tapi di satu sisi karakter sepakbola Indonesia itu sendiri punya sisi positif. Karena dengan sepakbola semuanya bisa disatukan. Pertikaian bawa-bawa agama, bawa-bawa nama klub, bawa-bawa nama supporter,gak suka ini, gak suka itu, semuanya sirna dan jadi satu di sepakbola. Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Begitu juga sepakbolanya, begitu pula (harusnya) karakter kita. Satu, kalian, kita, kami mengerti tentang sepakbola.
Bukan Rahmad Darmawan, bukan ketua PSSI yang baru, bukan setumpuk uang dari konsorsium, bukan pula semata kritikan dari media, bukan hanya nyanyian Indonesia raya yang menggema di saat-saat euforia tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s