6 Bulan Setelah Itu ….

6 Bulan sudah. Kenapa saya pilih ibukota, padahal Jogja lebih nyaman?. Kenapa Jogja, padahal saya asli Padang?. Jogja adalah rumah. Sama seperti setiap pemain Milan yang datang ke Milanelo, intinya, nyaman.

Sekarang, sudah 6 bulan saya disini, menetap, tak seperti dulu, cuma datang doank, terus pergi lagi. Ibukota. Ibukota di pulau jawa, tepatnya Jakarta, karena sejatinya Ibukota di Indonesia itu ada tiga. Bukittingi ( Sumatera Barat ) dan Jogjakarta pernah jadi Ibukota Indonesia ( sementara). Semua orang tau tentang Ibukota, tentang mengadu nasib. Buat saya, Nasib bukan cuma di Ibukota, kalau mau memicu adrenalin, tinggalah di daerah terpencil, sukses ( meskipun normatif), itu lah yang adu nasib. Kamu belum tentu bisa eksis di cwitter, feisbuk, forskuer dan lain-lain, bahkan di dunia maya, kalau udah di daeran terpencil.

Alasan saya menginjak kaki di Ibukota simpel, stuck di Jogja. Selain itu pengen uji mental aja disini, seberapa brengsek saya bisa brengsek daripada orang yang sudah brengsek. Ini bukan pertama kalinya saya ke Jakarta lhoh.😛 Kerjaan di Jogja sih ada, etapi ya itu stuck. Rasanya semua tempat di Jojga sudah dijelajahi, hal itu yang membuat saya keluar dari Jogja. Tapi suatu saat, saya akan kembali ke Jogja. Pasti.

Seorang teman yang kini berada di kalimantan, dan pernah satu kost di Jogja, dan berasal dari Jakarta, memberi nasehat, jika lo pengin eksis, lo harus punya peta Jakarta, tau rute busway dan punya gadget keren, biar terlihat keren. Saya pun membeli peta Jakarta seharaga 10 ribu rupiah saat itu. Dari semua usulnya itu, ada benarnya juga.

Ibukota tak membuat saya kikuk. Sudah biasa hidup nomaden ibarat flinstone. Hal pertama tentu saja, adalah tempat berteduh. Saya mendapatkan kos murah meriah, dan bikin gerah, plus ada hantunyah. Etapi kalau soal hantu, saya di Jogja udah sering ketemu lagi. Ejangan sampai ketemu lagi🙂

Kossannya campur, ini pengalaman pertama saya, ngeliat beha dan celana dalem secara live ( maksudnya sehabis dicuci gitchu). Tap ya untungnya anak-anaknya tertib. Filosofisnya sederhana : “Nakal boleh, tapi jangan di kos”. Dan hingga saat ini saya tidak tahu seberapa bisa eksistensi dari filosofis itu bisa dipertahankan. Karena adanya unsur #kepo dalam diri saya, ada rahasia-rahasia yang terungkap di kosan ini😛 . Untungnya bundo gak tau soal ini, yang tau hanya om saya yang saat itu mampir di kos.

Plirak-plirik, itulah hal pertama yang saya lakukan. Cari atm, apotek buat beli obat sakt gigi, sampai warung makan. Pernah makan di jalan raya Halimun, sebuah soto saat itu. Jam 10 malam. Setelah duduk, pesan makan, ngabisin makan, dan pas mau bayar, mas yang jualan bilang : ” nggak pengen nongkrong dulu mas?”. Opss, selang beberapa detik, datanglah para jablay. Etapi saya tidak tertarik. Atut. Lebih baik yang dikosan aja #eh. Ya beginilah, saya hanya gak tau aja, ada tempat-tempat yang kayak begitu di dekat sebuah ormas yang selalu bawa-bawa nama agama itu lah. Munafik sama jaim gak ada bedanya kali ya.🙂

Next, plirak-plirik nyari buat ngisi kuota internet via modem. Maunya ke Ambassador, etapi nyasar ke Gatot Subroto. Untung ada sebuah mall gede yang di Semanggi itu. Ternyata peta Ibukota, salah saya mengerti.

Busway. Inilah transportasi andalan kalau mau nguli. Gilak!

Sevel ato Seven Eleven, bisa dikatakan jadi tempat saya hangout (bergantungan) selain bergantungan di Busway. Jun, teman satu seperguruan kala di Jogja yang paling sering keknya mensugesti fikiran saya. Etapi Wi-Finya Sevel cupu!

Taksi. Saya pernah naik taksi yang familiar itu. Pernah berangkat dari Senayan ke E-walk, trus mau masuk taksi supirnya bilang gini : “kemana pak?”. Saya : “Epicentrum”, Supir : “tolong dituntun ya Pak”
Saya : “Maksudnya?”, Supir : “Saya gak tau jalan” Saya :”Rupamu!”

Nonton Bola lebih dekat. Saya sudah 4 kali nonton bola gak perlu jauh-jauh naik kereta seperti Jogja-Jakarta. Ac Milan Legend vs Indonesia All Star, dan kemudian tiga pertandingan timnas u-23 di Sea Games sudah saya tonton.

Masih banyak hal lainnya yang belum diceritain, tapi gak off the record kok.🙂
Saya mencoba gak munafik, uang itulah tujuan saya kesini. Saya tidak suka bermimpi, dan lebih memilih hidup di dunia nyata. 6 Bulan di sini, inilah hari terkahir saya di sini. Besok, saya pamitan. Terima kasih 6 bulan…

4 tanggapan untuk “6 Bulan Setelah Itu ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s