Aturan Itu…

Jadi gini. Sewaktu naik busway dari blok-m menuju kos seorang bapak-bapak ngomel. Bapak ini berkata ” Tolong ini yang perempuan dipindahkan ke depan!. Nanti kalau ada apa-apa yang cowok disalahin. Bikin aturan gimana sih!, gak dijalanin!”

Begitulah kata bapak-bapak yang diperkirakan berusia 50 tahun ini ( menurut saya). Memang, ada aturan busway yang menerapkan aturan kalau cewek langsung ke depan dan cowok ke belakang saat ingin masuk ke busway.

Pertanyaan sederhana, kenapa bapak-bapak itu marah?. Ya wajar, selama ini yang selalu ternotifikasi melakukan kesalahan dengan tuduhan asusila, atau tindakan pelecehan seksual adalah para cowok.

Saya tidak bermaksud bermain ‘gender’ disini, lhah wong masalah rok mini aja pada heboh banget!

Kita kembali ke si bapak tadi. Ada benarnya juga apa yang dikatakan si bapak itu. Sayangnya saat moment itu petugas buswaynya cuma diam saja. Mungkin karena busway masih sepi, belum ada lonjakan penumpang seperti saat mudik.

Hal-hal yang memang tidak diinginkan oleh siapa pun termasuk saya, sebagai penumpang setia busway kalau berkeliaran. Momentnya begini, pas pagi misalnya orang-orang selalu terburu-buru berangkat kerja, serasa kalau telat duit gaji yang dipotong perusahaan begitu memiliki arti. Bagaimana saat moment tersebut?. Penumpang busway berdesakan, nggak peduli siapa yang dibelakang, depan, samping kiri dan kanan, mau cowok-cewek, atau cowo-cewe yang penting sikut melayang.

Begitu pula saat jam pulang kerja, kondisi capek abis banting tulang, mau cowok-cewek, atau cowo-cewe, juga berdesakan saat naik busway. Lagi-lagi, gak peduli, yang penting sikut melayang.

Nah, yang ngelola urusan busway punya cara yang berbeda ngatasihn hal ini. Yang bakalan ditambah adalah unit buswaynya, sementara dia bikin aturan yang cewek posisi di depan, dan yang cowok posisinya di belakang.

*Nganuu, yang di depan dan di belakang bukan posisi sex lhoh ya*

Penambahan unit busway bukan solusi satu-satunya. Kalau memang ingin menjaga terjadinya tindakan asusila atau pelecehan, alangkah elegannya bikin aturan yang sederhana. Halte busway misalnya. Semua orang berdesak-desakan, gak peduli cewe-cowo, kesengol anu-anu dan segala macamnya.

Kalau memang pengen punya niatan mencegah tindakan atau hal-hal yang (tidak) diinginkan, maka alangkah halte buswaynya yang didesain seperti itu.

Halte dukuh atas misalnya. Yang mengarah ke ragunan-kuningan mampang, haltenya dibuat terpisah. Lalu bagaimana dengan yang lain?. Sepanjang pengematan saya gak ada (koreksi, kalau ada🙂 ). Sisanya?

Atau pengelola busway bikin busway khusus wanita layaknya gerbong KRL. Simpel, gak ada yang tertuduh, dan yang dituduh.

Kalau pun misalnya masih ada kasus-kasus yang kek begitu, tinggal pengendalian nafsu aja. Ada cewek pake rok, 20 centi diatas lutut misalnya, kalau ndak tahan nafsu ya curi-curi pandang aja atau sok cool. Jangan digrepe-grepe.

Atau misalnya, jika ada yang berbelahan dada rendah dan dalam posisi nunduk-nunduk gitu ekarena keasikan sama BlackBerrynya ya, ntar dilampiasin di rumah/kost atau kontrakan aja lah.

Begitu pula cewek, kalau ada cowok yang resletingnya ndak kepasang, tolong diingetin aja, dan khusus cowok yang begini, jangan berdiri di depan muka saya.

Ya, segitulah. Aturan emang harus benar-benar dbuat dengan elegan dan dilanggar pula dengan elegan, yang membuat sebagian orang terkadang tidak elegan.

Jadi bara pemimpin dan pengelola, bikin aturan mbok ya dipikir ya, emang bener-bener diterapin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s