Merusak Barcelona

Salah satu laga seru perempat final Liga Champions antara Ac Milan vs Barcelona sudah digelar dini hari tadi. Pengin bikin analisis kayak si kulit bundar.

Tapi kayaknya gak pake grafik, karena baru bangun dan harus berangkat ngantor di pagi hari.

Langsung aja deh. Di awal babak pertama kick-off pertama jadi milik Barcelona. Tim Spanol ini langsung mengambil inisiatif pertandingan. Di awal-awal pertandingan peluang Lionel Messi ditepis Christian Abbiati. Selanjtnya sudah bisa ditebak, ritme pertandingan jadi milik Barcelona.

Tapi disini ada perubahan yang dilakukan Milan, begitu pemian tengah Barcelona seperti Seydou Keita, Xavi, atau Andreas Iniesta, lini tengah Milan mencoba mengimbanginya dengan cara tidak langsung menutup daerah di depan kotak penalti.

Saya melihatnya Ambrossini, Claerence Seedorf, hingga Antonio Nocerino, hanya perlu 2 sampai 3 langkah untuk mundur dan membayang-bayangi pemain Barcelona dan mengamati gerakan bola yang akan dialirkan ke Alexis Sancez dan Lionel Messi.

Biasanya, jika saat dalam posisi diserang, Milan menumpuk lini tengahnya langsung di depan kotak penalti. Pertimbangannya, usia para pemain tengah mereka yang sudah tidak terlalu muda untuk musim ini, khususnya Van Bommel, Gattuso, Ambrossini, yang jadi pembendung pertama serangan lawan.

Sesekali Nocerino bisa lepas untuk menyerang, tapi sayang, sesekali pula umpan atau rangkain serangan milan terputus oleh lini belakang Barcelona. Peluang terbaik hanya didapat Ibra, sayang tendanganya masih bisa ditahan Victor Valdes.

Lini belakang Barcelona kembali seperti menggunakan 3 bek. Javier Mascherano, Gerrard Pique dan Carlos Puyol. Bisa saja ini untuk mengantisipasi gerakan Robinho dan K.P Boateng yang hobi bergerak kesana-kemari, plus kehadran Nocerino yang sering datang tiba-tiba dari belakang.

Sayang, penampilan Robinho dan K.P Boateng tidak terlalu prima di babak pertama. Hal lain dari Barcelona adalah terlihat beberapa kali Victor Valdes saat tendangan gawang, terlihat melepas tedangan jauh kedepan.

Yup, Milan sudah memulai pressure dari pertahanan lawan sendiri. Meskipun begitu Barcelona belum kehilangan karakter bermainnya. Selain itu dua bek kanan dan kiri Milan, Bonera dan Antonini, tidak terlalu jauh untuk maju bahkan melewati garis tengah.

Persis seperti strategi Juventus ketika bertemu klub papan atas, dua bek yaitu kanan dan kiri mereka tidak melewati garis tengah daerah permainannya sendiri.

Satu hal yang wajar, terutama sisi kanan Barcelona yang diisi Daniel Alves dan Lionel Messi. Jika Antonini naik terlalu jauh, Seedorf, Ambrossini atau Nesta akan sulit mengimbangi dan menutup pergerakan pemain Barcelona.

Selama babak pertama, lini tengah yang ketat membuat Barcelona mengandalkan kemampuan Messi sendirian. Terlihat beberapa kali begitu Messi menerima bola, pemain semacam Seedorf atau Ambrossini datang menyerobot dan mencoba merebut bola. Jika tidak berfungsi, ada serangan sayap dari Daniel Alves, buktinya satu crossing dari bek Brazil ini diterima Messi, sayang pemain bernomor punggung 10 ini terjebak offside.

Secara keseluruhan, bisa dibilang, Barcelona jadi jawara di babak pertama.

Babak kedua kick-off dimulai dari Milan. Milan mencoba mengambil inisiatif serangan. Alhasil penguasaan bola Milan sedikit unggul. Kevin Prince Boateng terlihat beberapa kali merepotkan Carlos Puyol.

Sementara itu Robinho masih belum menemukan performa terbaiknya. Robinho digantikan El Shawrawy, sementara itu K.P BOateng diganti Urby Emmanuelson. Beberapa kali pemain Milan mencoba melakukan serangan dari sisi pertahanan Barcelona yang dijaga Carlos Puyol, terlihat beberapa kali pula sempat ditembus meski hasilnya tidak maksimal.

Lini tengah Barcelona, dibuat ‘rusak’ oleh Ambrossini plus sedikit bantuan Seedorf dan Nocerino. Pernyataan Ambrossini sebelum pertandingan “butuh pengorbanan yang lebih untuk bisa meladeni Barcelona” coba untuk dibuktikannya.

Berawal dari ia selalu merebut bola, Xavi dan Iniesta seperti kehilangan ritmenya. Iniesta diganti dengan Carlos Telo yang sempat membuat lini pertahanan milan kerepotan.

Tapi ya itu tadi pengorbanan tersebut juga menyisakan celah di lini belakang Milan. Inisiatif menyerang yang coba diambil Milan, membuat lini tengah Milan menyisakan Ambrossini.

Seedorf dan Nocerino bisa saja melakukan pressure dari lini tengah kepada pemain tengah Barcelona, tapi umpan-umpan yang mereka alirkan tak berjalan mulus. Konsekuensinya ketika lni tengah Barcelona memiliki kendali dan melakukan counter Attack, sehingga Ambrossini seperti “tidak punya teman”.

Alhasil Alessandro Nesta juga harus membuat sacrifice foul dengan menjegal Lionel Messi di luar kotak penalti Milan. Jika tidak dihadang, Messi hanya akan bertemu Luca Antonini dan Abbiati saat itu.

Sialnya bagi Milan, Nesta harus diganti, karena mengalami cedera. Bonera dan Philippe Mexes jadi punya tanggung jawab besar. Bonera digeser ke centre back dari bek kanan, sementara itu Luca Antonini dari bek kiri ke bek kanan, dan Djamel Mesbah yang masuk menggantikan Nesta di bek kiri.

Milan tidak peduli, mereka masih mencba untuk menyerang dan bermain terbuka. Barcelona pun begitu, Lionel Messi dan Carlos Telo beberapa kali mempertontonkan aksi individunya, untung Luca Antonini dan Daniel Bonera juga cukup sigap.

Intinya adalah bagamana cara Milan merusak lini tengah Barcelona. Ambrossini cukup punya peran vital saat itu jika Milan berada dalam posisi bertahan. Sementara itu saat transisi dari bertahan ke menyerang jadi milik Seedorf.

Xavi masih punya kreasi yang luar biasa. Umpan-umpannya masih sulit dimengerti oleh lawan. Hanya saja pressing ketat, membuat ia tidak terlalu leluasa berbagi dengan rekan-rekannya.

Lini pertahanan Barcelona menyisakan celah pada Carlos Puyol. Usia yang sudah lanjut bisa jadi salah satu faktornya. Tapi keseimbangan pertahanan Barcelona masih harus diperbaiki jika ingin menggunakan formasi 3 bek di belakang.

Milan punya masalah di lini depan, mengadalkan Ibra sendirian tidak akan efektif. Ia seperti kesulitan mencari teman untuk berbagi bola. Robinho, Cassano dan Pato belum menentu nasibnya. Bisa saja El Shawrawy kembali menjadi andalan atau ada pilihan bagi Maxi Lopez kembali bernostalgia di Nou Camp.

Untuk lini tengah jika Milan masih bermain seperti ini di leg kedua, mungkin akan membuat jantung kita deg-degan lebih lama, karena bisa saja pertandingna akan dilanjutkan melalui extra time.

Lini belakang jadi masalah buat Milan, Bonera dan Mexes harus punya insting defense yang sempurna, seperti yang ditunjukkan Nesta. Pengalaman berbicara disini. Selama Christian Abbiati selalu sigap, mungkin Milan sedikit aman.

Leg kedua?. Barcelona bisa jadi menggila dan bisa membuat Milan jadi gila.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s