Fujitsu, dari Filosofi Menjadi Teknologi

Membayangkan Fujitsu sebagai salah satu perangkat komputer dan laptop pastilah teringat dengan harganya yang premium. Harga yang dijadikan sebagai indikasi konsumen khususnya di Indonesia dalam memberi produk, khususnya perangkat teknologi.

Tapi kenapa harga Fujitsu selalu berkisar di harga premium?. Untuk pertama kalinya saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal Fujitsu lebih dekat di acara Fjitsu Gathering, kamis (12/7) dengan beberapa blogger.

Berangkat dari Takumi. Sebuah filosofi seni dari Jepang, yang dipadukan dengan teknologi yang terus berkembang di jaman sekarang.

Berbicara Takumi, dari beberapa informasi yang saya dapat, Takumi ini memiliki beberapa makna seperti artisan, skill, dan keindahan yang ada di laut. Benar saja, filosofi ini yang dibawa Fujitsu ke dalam jajaran Lifebooknya.

Empat filosofi Takumi yang diterjemahkan FUjitsu dalam Lifebooknya adalah F-Line yang terdapat pada bagian setiap keyboard Fujitsu, dan menjadi penegas serta ciri khas Fujitsu di setiap jajaran Lifebooknya.

Infinity Mark, yang merupakan lambang keunggulan dan inovasi, Xen-Like Rounded Profile, sebuah kesederhanaan, tanpa melupakan hasil kualitas sebuah perangkat teknologi dan User-Centric Shared Details, sebuah desain yang terdapat pada keyboard yang menampirlkan visual menark, keyamanan pengguna saat mengetik dan sebuah ‘penampakan’ yang jelas pada prot sebagai perpaduan teknologi dan kenyamanan.

Semuanya tergambar dalam makna yang saya dapat tersebut. Memiliki seni, sebuah skill khusus dan tentunya keindahan.

Selain itu, unsur-unsur “rasa Jepang” yang benar-benar divisualisasikan dalam perangkat Fujitsu ini.

Lifebook, hal itu yang membedakan Fujitsu dengan yang lainnya dan selalu didukung dengan unsur Takumi. Bersamaan dengan itu Fujitsu mengenalkan perangkat-perangkat barunya.

Lifebook SH 772 dan SH 572 misalnya. DTS Bosst Sound System yang merupakan sebuah perangkat yang dibenamkan dalam Lifebook Fujitsu dan merupakan bagian dari sebuah orisinilitas dan ciri khas dari Fujitsu dan keindahan lekuk tulisan bergaya Jepang. Tak hanya itu perpaduan ciri khas Jepang ini dlengkapi dengan perubahan Teknologi yang memungkinkan semua hal terjadi. Lifebook Fujitsu SH 772 dan SH 572 dilengkapi dengan fitur Fance Sense Utility dimana ketika pengguna sedang menonton video, video ini bisa berhenti sejenak secara otomatis, ketika pengguna menjauh dari Lifebook SH 772 dan SH 572.

Era sekarang adalah Era Ultrabook. Fujitsu pun tak mau ketinggalan. Lifebook U722 adalah hal nyata yang direalisasikan Fujitsu, tanpa harus meninggalkan filosofi Takumi yang menggabungkannya dengan kondisi teknologi di era sekarang. Salah satunya adalah faktor keamanan. Trusted Platform Module contohnya. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengengkripsi semua informasi yang diinginkan, sensor built-in Finger dimana pengguna bisa memberikan keamanan tambahan dan kenyamanan dalam mengakses e-mail dan dokumen rahasia, dan Data Protect Technology, dimana pengguna memungkinkan untuk menghapus file penting di HDD ketika, LifebooK U722 berada dalam kondisi hilang atau dicuri.

Lain Lifebook U772, lain pula dengan Lifebook UH 572. Masih berjenis Ultrabook, Fujitsu pun ingin menunjukkan identitas aslinya dengan penggunaan SSD miliknya sendiri dengan tambahan kapasitas sebsar 32 GB iSSD. Jujur, saya baru tau pertama kali Fujitsu juga menggarap SSD nya sendiri.😀

Tapi itulah Fujitsu, mereka ingin memiliki karakter sendiri, dengan segala hal yang mereka sajikan sendiri, sesuai dengan karakter Jepangnya.

Selain itu masih ada empat seri lainnya dari Fujitsu yaitu, LH772, LH532, PH702, dan AH 532. Terlepas dari semua itu, meski Fujitsu selalu ingin menunjukkan karakter mereka sendiri, tentunya Fujitsu juga harus bekerjasaa untuk menciptakan perangkat Lifebook yang kuat. Salah satunya adalah bekerjasama dengan Intel.

Dari semua perangkat Lifebook Fujitsu tersebut, semuanya sudah dilengkapi dengan generasi ketiga terbaru Intel yang menggunakan prosesor Intel Core i5 dan i7.

Itulah ketika perpaduan budaya asli dan teknologi yang terus berkembang seiring jaman. Hal ini membuktikan, bahwa budaya masih bisa dipertahankan, meski arus globalisasi terus masuk. Fujitsu dan perangkat Lifebook mampu melakukannya dan menjaga keseimbangan antara budaya dan pengaruh teknologi yang terus berdatangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s