Karena Teman Itu Seperti Ini (2)

Karena teman seperti ini, sudah pernah saya tulis sewaktu kami(anak-anak kos yang saat itu memiliki masalah mental yang cukup parah) berpetualang di Gunung lawu. Sebagian kegilaan terebut masih terekam dalam pikiran saya dan membuat saya bertanya-tanya, kapan kami akan melakukannya lagi.

Tapi kali ini saya akan membuat karena teman seperti ini bagian dua. Bukan menjelajah alam, tapi hanya sekedar pertemuan lama. Hanya reuni singkat. Awal mulanya adalah ketika saya utak-atik aplikasi jejaring sosial bernama Path. Saya melihat seorang teman saya bernama Aziz yang biasanya menetap di Jogja secara tetiba berada di jakarta.

Ada gerangan apakah si Aziz ke Jakarta?

Jadilah akhirnya saya berbagi cerita dan tebar isu dengan teman-teman lainnya di Twitter tentang keberadaan Aziz. Jadi gini. Aziz itu adalah teman seperjuangan saya sewaktu di Ekonomika, lembaga pers kampus ketika kami masih kuliah di Jogja. Dia bertugas sebagai fotografer dan Layouter saat itu.

Dan kedatangan Aziz ke Jakarta buat saya adalah sebuah hal yang langka😛.

Akhirnya setelah ngobrol ita-itu, ina-inu di Twitter, akhirnya saya, Aziz dan seorang alumni Ekonomika lainnya, Intan sepakat untuk tidak sepakat bertemu di Pacific Place. Tapi di Senayan City, tempat Aziz
melakukan sebuah projectnya gitu.

Proses untuk bertemu Aziz di Senayan City bukanlah sebuah hal yang cukup mudah. Hujan dan kemacetan Jakarta yang semakin menggila dikala hujan menjadi tantangan tersendiri.

Saya dari Blok M naik busway. Sementara itu kak Intan memilih naik kopaja. Tapi hal inilah yang menggelikan buat saya, sehingga terkesan lucu, dan meskipun tidak lucu, dilucu-lucuin aja lah yah.

Kak Intan terjebak kemacetan saat itu, sehingga kopaja yang ditumpanginya memilih masuk ke jalur busway. Nah, saya yang udah janjian ketemu sama Intan di halte busway pun binggung, karena pastinya si Intan turun (mungkin agak lumayan jauh) dari tempat perjanjian kita ketemu.

Tapi reply Intan yang seperti ini yang bikin saya ketawa. Bagi orang lain mungkin gak lucu, tapi buat saya yang berada dalam kondisi seperti ini lucu.

Saya hanya membayangkan saat saya menunggu di halte busway dan kemudian Intan yang berada dalam kopaja yang lewat di jalur busway melintas begitu saja dan saya dadah-dadah ke Intan.

Gak lucu?. Enggak sih emang.

Oke, kita kembali ke tema karena teman itu seperti ini. Temn seperti ini itu maksudnya adalah ngobrol ngalor-ngidul sekaligus melepas rindu dan pengetahuan. Setelah saya, Aziz, dan Intan membahas pekerjaan, ciri-ciri pria gay, sampai hal-hal lainnya, sampailah kami membahas tentang masalah kesehatan.

Kesehatan yang memang menandakan bahwa kita harus menjaga kesehatan dan kondisi tubuh sendiri, mencoba untuk lebih peduli pada diri sendiri dan tidak menyepelekan hal-hal yang sepele.

Naini Aziz dan Intan

Saat itu masalah kesehatan yang dibahas adalah tentang bagaimana seseorang memiliki respon yang lambat atau tidak sinkronnya antara apa yang terlintas di pikiran dengan gerakan tubuh. Kak Intan pun menceritakan kisah ceritanya, begitu pula Aziz, dan saya melongo, karena memang ternyata respon antara otak dan tubuh saya sedikit melambat.

Kesimpulannya Aziz yang punya cukup pengalaman menyarankan agar kami sesekali peduli dengan hal yang seperti ini. “Cobalah cek ke dokter, nanti ada terapinya.” begitu kira-kira kesimpulan kak Aziz.

Pembicaraan berlanjut tentang liburan, petualangan, dan tak lupa soal jodoh. Mengingat diantara kami bertiga adalah jomblo, kami saling berusaha untuk mengorek informasi yang berlebihan, layaknya wartawan-wartawan yang pengen tau aja gitu.

Tapi tidak ada satupun informasi yang terbongkar malam itu. Tidak satu pun!. Dem!

Reuni singkat ini pun berakhir dikala, mbak-mba dari Dantes Coffe menawarkan nambah order minuman. Kami memilih tidak. Wajah-wajah letih sudah mulai terlihat, bahu kami sudah tidak sanggup lagi berkonfrontasi dengan pikiran.

Dan akhirnya pulang. Ya. Karena teman itu seperti ini. Lihat saja Twitt terakhir Intan yang seperti ini. Meski riwil, ya karena itulah teman. Karena teman itu seperti ini.

Saling berbagi, saling bercerita dan saling ngutang. (Maaf Ntan, ojek payungnya blum kubayar. Lupa).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s