Gerak!, jangan hanya teriak

Kan gini. Sewaktu saya lagi naik busway menuju arah harmoni dari halte kelapa dua sasak, saya dikejutkan dengan tepukan tangan seseorang di bahu, saat sebuah busway berhenti di halte Duri Kepa.

Jadi gini ceritanya.

Orang tersebut menepuk bahu saya. Orang yang menepuk bahu saya ditepuk lagi bahunya oleh orang di sebelahnya, dan orang yang menepuk bahu tersebut ternyata bermula dari seorang cewek.

Cewek tersebut ternyata sebenarnya ingin bicara dengan petugas buway. Lalu kenapa dia menepuk bahu saya?. Karena posisi saya yang dekat dengan pintu dan dekat dengan petugas tersebut.

Ternyata cewek itu ingin melaporkan tindakan yang dia anggap tidak senonoh, kurang sopan dan kriminalitas yang dilakukan oleh seorang penumpang pria yang persis duduk didepannya. Seorang pria tersebut ternyata terlihat sedang merogoh-rogoh si cewek. “Tangannya nakal.” begitu cerita si cewek ketika petugas busway yang jaraknya jauh dari si cewek itu sendiri.

Sialnya, ketika si cewek hendak ingin menyampaikan bahwa tangan si pria tersebut sedang ‘nakal’ si pria itu keburu turun-turun dari busway. Dan sementara itu si cewek yang dianggap ‘dinakalin’ tersebut ternyata saat itu sedang tertidur pulas.

Nah berkaca dari cerita saya yang sebenarnya ribet tadi saya ingin bilang, kalau ingin perubahan, tidak cukup hanya dengan teriak saja, tapi juga sikap.

Sederhana menurut saya, apakah cuma si cewek tersebut yang melihat si pria merogoh-rogoh si cewek tersebut. Saya rasa nggak. Toh setelah semua yang ada di dalam bus tahu, ternyata penumpang lain juga tahu. Artinya, yang lain diam dan ketika semuanya sudah terjadi, baru pada bersuara.

Gini maksud saya. Setiap orang berteriak ingin meminta keadilan, setiap orang teriak ingin melakukan perubahan, tapi mereka terdiam dan tak punya perasaan ketika ketidakadilan menimpa orang lain.

Contoh sederhana yang sebenarnya tidak perlu saya ingatkan lagi bagi siapa pun. Kenapa kalian takut untuk mengatakan keadilan seperti pelecehan di bus, pencopetan di angkot atau pelanggaran lalu lintas di perempatan jalan?

Kalau kalian berani bertarung dengan rival demi merebut hati sang klien dalam kerjaan, kalau kalian berani menyingkirkan teman kerja yang dianggap saingan di kantor, kalau kalian berani mengorbankan rekan demi menjadi penjilat, kenapa hanya untuk hal yang ada di depan mata kalian yang sebenarnya membutuhkan keadilan, kalian tidak berani?

Kenapa? Kenapa sebagian dari kalian hanya berani bersuara di dunia maya? Kenapa tidak melakukan hal yang lebih nyata. Jangan jadi penakut. Buat saya, teriak saja tidak cukup.

Berdasarkan pengalaman saya, saya sering bertemu dengan orang yang kerjaanya ngedumel ” di belakang” ketika dia tidak senang melihat sesuau yang tidak diinginkan, tapi justru diam ketika berhadapan dengan situasi yang tidak diinginkannya tersebut.

Gerak!, jangan hanya teriak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s