Jadi Pahlawan

Ada yang mau jadi pahlawan?. Di Jakarta?. Saran saya berhati-hatilah dan gunakan otak serta akal sehat, karena bermain fisik dan adu mulut hanya akan membuat situ terlihat bodoh. Sepenggal cerita itu saya ambil dari pengalaman saya ketika berada di halte busway Dukuh Atas saat pulang jam kerja.

Begini ceritanya. Seorang petugas busway sedang menjelaskan kepada seorang ibu-ibu bahwa ia harus ikut antrian panjang di depan pintu halte busway menuju Pulo Gadung. Tak disangka badan kecil si ibu terlihat oleh petugas busway yang laki-laki. Si petugas menjelaskan peada si ibu tersebut bahwa ia harus ikut antrian. Tapi si Ibu bersikeras bahwa ia mengikuti aturan.

Suatu hal yang nggak basi lagi di Jakarta alias Indonesia, susah diatur dan ngerasa mbahnyanya punya setiap tempat dan sudut jalan di Jakarta ini.

Entah kenapa tiba-tiba, seseorang pria yang berada di antrian busway menuju Ragunan tersulut emosinya. Sambil berteriak dengan suara keras, dan sikap angkuh ia menyebut si petugas busway harus sopan terhadap wanita dan tidak boleh menarik-narik wanita.

Jujur saya tidak melihat apa yang dilakukan petugas busway tersebut terhadap si ibu tadi. Tapi sepanjang saya mendengar saya tidak melihat ada aksi berbentuk kekerasan dari si petugas busway terhadap si ibu tadi.

Jam pulang kantor bisa jadi adalah jam dimana orang-orang Jakarta paling gampang tersurut emosinya. Disinilah semuanya dimulai. Si pria yang dengan emosi dan tepat berdiri di sebelah saya tadi sudah mulai mengeluarkan emosinya dalam bentuk kata (bisa dibilang makian) dan membuat emosi si petugas busway pun naik.

Hampir terjadi adu pukul, si pria ini sendirian, tidak ada penumpang lain yang ikut membelanya. Sementara si petugas busway bersama teman-temannya pun sudah mulai tersulut emosinya.

Sampai akhirnya sang supervisor busway datang dan mencoba meredakan ketegangan emosi antara si pria yang mencoba membela si ibu tadi dan petugas busway yang mencoba membela hak penumpang busway yang sedang antri.

DSC_0007

*Pria disebelah kiri si Supervisor dan sebelah kanan si Pria yang nyolot*

Hal ini sudah bisa diredakan, tapi si pria yang berada di area menuju Ragunan ini masih tetap nyolot. Saya mulai kesal, karena posisi berdiri si pria ini berada persis dekat dengan saya. Saya langsung nyrocos, ” ente kalau mau berantem di luar, laki-laki kan?.”

Hal ini harus saya lakukan daripada merekamengusik penumpang busway lainnya. Ini tempat umum, milik dan hak semua orang, bukan mereka yang sedang bertikai saja.

Tapi si supervisor busway sepertinya punya cara lain. Ia mengajak si pria yang nyolot demi membela si ibu-ibu untuk keluar dari antrean dan duduk serta bicara bersama dengan petugas busway tadi. Cara yang bijak dan elegan buat saya. Tapi si Pria ini tidak mau dan malah nyolot “Gue bakalan bawa orang-orang BIN (Badan Intelejen Negara), bapak gue kerja disana!!.”

Merasa terkepung dan tidak mau disalahkan si pria ini masih saja nyolot. Emosi saya hampir naik. Sempat terlintas di pikiran bawah saya akan bilang, kalau (Alm) Munir (aktivis HAM) masih hidup bapak lu mungkin gak bakalan kerja di BIN.”

Tapi saya tidak jadi berbicara seperti itu, karena saya tidak mau menambah masalah orang-orang tolol yang gampang tersulut emosinya.

Beranjak dari cerita ini, setiap orang seperti ingin menjadi pahlawan. Si pria yang mencoba membela si ibu, karena merasa diperlakukan tidak adil versi dia. Atau si petugas busway yang membela hak penumpang busway lainnya yang sedang ngantri dan tiba-tiba antriannya diserobot oleh seorang ibu-ibu.

Siapa yang salah? Kita tidak akan mencarii-cari kesalahan disini. Karena filosofisnya sederhana. “Nyari kesalahan orang lain gampang, tapi ngakuin kesalahan sendiri itu gengsinya setengah mati.”

Menjadi pahlawan dan mencoba membela hak orang lain? Berfikirlah dengan cara cerdas

2 tanggapan untuk “Jadi Pahlawan

  1. rusuh di dukuh
    mereka yang ‘panas’ kita yang gerah.
    biasanya peraturan ada untuk dilanggar tapi sayang gak tegas, cuma menekankan adanya disiplin tp nihil.😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s