Mahisasuramardini (2)

Hari itu Dani masih terlihat bermalas-malasan. Story board yang akan dikerjakannya masih terbengkalai. Ia hanya menyisakan Story Line untuk sebuah konsep video yang akan dikerjakan bersama timnya. Sambil membuka tab-tab baru di halaman Google ia teringat akan satu nama. Mahisasuramardini. Ia seperti familiar dengan nama ini. Ia membuka kembali foto-foto yang tersimpan di akun Instagramnya. Ratusan foto yang dilihatnya menuju ke sebuah patung hasil jepretan melalui kamera smartphone. Durga Mahisasuramardini. Ia melihat patung tersebut lalu mengetikkan nama Durga Mahisasuramardini di Google.

*****************************************

Dini, tampak lebih segar dari biasanya. Ada kerutan wajah yang lebih bahagia terpancar di wajahnya kini, meskipun proses bicaranya masih terganggu. Dua tahun silam adalah sebuah masa kelam bahagia bagi ini, yang dirusak oleh masa setahun yang tak kunjung bahagia. Sebuah hubungan yang pupus, membuatnya mengalami kondisi psikologis yang tidak baik yang memaksanya mengalami kecelakaan dan mengalami kejangnya pita suara yang menyebabkan Aphonia(gangguan saraf bicara).

Sehari-hari Dini berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya hanya melalui bahasa Isyarat, yang kadang tidak dimengerti. Bahkan banyak waktu yang terbuang karena ia terlebih dahulu menuliskan kalimat melalui BlackBerry untuk menyampaikan maksudnya.

Meski berada dalam lingkungan keluarga yang mampu, tapi tak lantas membuat Dini sembuh dari penyakitnya. Pekerjaanya sehari-hari sebagai seorang arsitektur justru yang membuat hidupnya tetap berjalan. Kemampuannya menterjemahkan suara yang hilang ke pikiran yang brilian membuatnya tetap bisa menjalani hidup, dan membuat hal yang terlintas di pikirannya adalah pekerjaan dan uang. Tapi tidak jarang yang menunjukkan sikap sinis terhadap Dini, di tengah Hedonnya ibukota. Tapi Dini tidak ambil pusing, “ini Gue, lo gak bisa rebut itu.”

Lalu bagaimana rutinitas Dini dengan pekerjaanya sebagai seorang arsitek yang menuntutnya untuk selalu berbicara dan mempresentasikan hasil karnyanya di depan banyak orang?. Dini hanya menggunakan beberapa software dan menjelaskan secara detail dengan kalimat yang disusunnya dalam materi presentasinya, sejauh ini belum ada rekan kerjanya yang kecewa, karena ia mampu meramu sebuah gambar secara visual dengan kalimat padat dan pesan yang tepat.

Meskipun begitu wajah Dini yang terlihat biasanya terlalu serius, dan selalu menaggapi semua hal dengan dingin, kali ini membuat perbedaan di mata Ayah, Ibu dan kakaknya. Berkali-kali ditanya tentang perubahan yang dialaminya, Dini tetap dingin menjawab dengan gelengan kepala.

********************************
Petikan “Samar dirajut mega garis wajahmu lembut tercipta.” dari Kla Project menemani langkah Dani untuk Pulang.

4 tanggapan untuk “Mahisasuramardini (2)

  1. jadi sedih gini alurnya..
    Yaa gpp sii, ada ketegaran yg tergambar dibaliknya kekurangan.
    Okesip lanjutin lagi yaakk
    smangkaaa😛

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s