Mahisasuramardini (Bagian 3)

Hari itu dia gundah, gelisah. Tak ada lagi yang ada di pikirannya selain keluar dari pekerjaanya. Tidak jenuh, tidak juga bukan masalah bayaran, tapi ini masalah respek!. Dani pulang lebih awal dari kantornya, saking awalnya, ia sudah sampai di sekitaran Taman yang terletak di kawan elit-padahal tempat kerjanya ada di Barat ibukota.

Suara anak kecil yang bermain paling terdengar nyaring, selain itu penjaja kopi keliling juga tak henti-hentinya menawari kopinya. “Marketing yang hebat.” gumam Dani.

Tapi hari itu tidak seperti biasa, ia tidak tertarik dengan jenis kopi apa pun, ia memilih sebuah minuman lain, minuman yang bisa membuat dahaga dan pikirannya segar. Bercampur es, ia mulai melakukan pengaturan pada kamera smartphone jadulnya. Hobinya yang menggunakan smartphone sebagai media untuk fotografi memang tidak dibendung.

Ia mulai mencari-cari objek, biasanya ia suka candid. Sambil memutar kepala ke kiri dan kanan, tak ada objek menarik lainnya. Tapi matanya berhenti di satu objek yang masih diingatnya tiga minggu yang lalu. Tidak cantik, tapi rambut sebahunya membuatnya sangat teringat.

Pikirannya dimainkan oleh hasrat yang ingin menyapa. Tapi…

*******************************************

Dini lebih segar sejak kejadian itu. Ayah, ibu, kakak dan kakak iparnya justru heran. Ia melihat sedikit perubahan pada putri tersayangnya. Jauh lebih b isa tersenyum, dan jauh lebih bisa menghormati orang yang bahkan tidak berbicara dengannya sekalipun. Ketika ditanya Ayahnya apa yang terjadi, Rani selalu menggeleng untuk memastikan tidak tahu dan tidak mau memberi tahu.

Tapi sejak kejadian ia terjatuh di sebuah bus tersebut, Dini selalu diantar dan dijemput sepulang kerja. Tidak ada lagi naik kendaraan umum. Dini memanfaatkan momen tersebut untuk menggetikkan kalima “Mampir ke halte busway yuk!” kepada siapa saja yang menjemputnya.

Agak mengherankan, meskipun dokter yang merawatnya melarang dia naik kendaraan umum, ia tetap berjalan menuju lorong busway. Membeli tiket, lalu menunggu beberapa saat dan kemudian pergi begitu saja. Jika Ayah atau kakak laki-lakinya tidak mau ikut membeli tiket dan masuk, Dini tetap cuek. Ia seperti menunggu sesuatu, tapi bukan dijemput oleh keluarganya, bukan siapa-siapa.

***************************************************

“Hari minggu kita kumpul, ada acara keluarga, jelang lamarannya Rena.” Pesan singkat itu yang dibaca Dani ponselnya, ia bermalas-malasan di kursi dengan membungkuk dan dagunya tepat berada di atas meja.

Hal yang membuat cedera punggungnya berefek pada sakit pinggang. Dani bahkan pernah membawa penyakitnya ini ke sebuah puskesmas dan mendapatai nasehat-nasehat dari para dokter.

“Ah, sudahlah, datang saja.” telannya dalam hati. Ia mengambil Headset, memasangnya dan mendengarkan lagu Queen – I want To Break Free

2 tanggapan untuk “Mahisasuramardini (Bagian 3)

  1. huaaa gantung-gantung-gantung…
    hahaahaa semua serba nanggung *sengaja bett yakk* hufftt okeii mulai penasaran saiah…
    Kapan bagian 4nya?😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s