Karena Teman Itu Seperti ini 3 (Kamfung Digital)

Jpeg

Sudah ada dua tulisan tentang karena teman itu seperti ini. Dalam dua cerita sebelumnya saya menceritakan perjalanan sebuah pertemanan yang sudah bertahun-tahun, namun kali ini berbeda. Sebuah cerita tentang pertemanan yang baru berjalan berbulan-bulan.

Begini ceritanya.

Pada awal bulan Maret, Adam menawarkan sebuah paket liburan ke pulau Pari. Satu pulau yang berada di kepulauan Seribu, Jakarta. Entah kenapa saya langsung mengiyakan ajakan ini. Sangat jarang saya sebenarnya berkumpul atau hang-out bersama teman-teman kantor. Sangat.

Prinsipnya sederhana, hampir setiap hari saya melihat wajah dan berinteraksi dengan mereka, ditambah lagi dengan akhir pekan. Bah! Tapi entah kenapa saya langsung mengiyakan. Entah.

Singkat cerita, sabu tanggal 25 April 2015 kami berangkat menuju pulau Pari. Jumlah yang ikut adalah 13 orang dan semuanya di dominasi oleh pria dan hanya ada dua wanita. Perjalanan dimulai dari berangkat bareng dari kantor jam lima pagi. Kami memilih menggunakan transportasi umum, naik Transjakarta di Gatot Subroto, kemudian turun di halte penjaringan dan nyarter angkot menuju pelabuhan Muara Angke.

IMG_1367

IMG_1369

Lihatlah, Hasan sampai kejepit, karena “4-6” sudah terisi penuh

Setelah itu, eh tapi! makan bubur ayam dulu.

IMG_1373

Perjalanan dari pelabuhan Mura Angke dimulai sekitaran jam setengah sembilan pagi. Suasana kapal sangat penuh. Ada yang dari Korea Selatan, ada pula sekelompok anak muda yang gak berhenti main kartu dari awal perjalanan sampai di tempat tujuan. Penuhnya kapal membuat posisi duduk saja tidak nyaman, sehingga apa pun pilihan yang kami lakukan di dalam kapal terasa tidak nyaman. Ini yang namanya liburan!

Jpeg

Tapi masih sempat selfie😀

Beberapa teman seperti Arif dan Roland memilih untuk berada di depan. Melihat laut.
Reza yang sudah minum antimo sebelum berangkat tidur pulas. Pure genius! Sisanya seperti Taufik, Diaz, Boim, Pacul, Hasan”Gaburr” Kak Galz, mbak Meta, Hasan (lagi), Adam, dan saya sendiri berada dalam posisi tanpa kepastian. Tidur kagak, duduk kagak. Kayak ditolak. *Halah*

Jpeg 20150425_082752
Sebuah momen dalam perjalanan menuju pulau Pari, ombak melaju kencang, berupaya memecahkan hamaparan ketenangan di dalam kapal. Bagi sebagian penumpang lainnya, tentu merasakan perut mual, terombang-ambing. Namun yang paling penting kami selamat sampai tujuan.

11.10 Wib

Sampai juga akhirnya di pulau Pari. Awalnya masih planga-plongo, mau dibawa kemana hubungan ini. Eternyata sudah disiapkan sebuah penginapan yang berada di dekat dermaga . Hanya perlu tiga menit dengna berjalan kaki menuju tempat isitirahat. Kami dipandu oleh seorang pria, yang menjadi tour guide perjalanan kali ini, yang sampai pada saya menuliskannya ndak tahu namanya.

Setelah leyeh-leyeh dan bertukar cerita hampir selama 10 menit, kami mendpaatkan welcome drink dan sarapan pagi. Ujung-ujungnya, acara ha-ha-he-he ini selesai jam 12 siang, dan ketika waktu menunjukkan jam satu siang, semuanya siap berangkat menuju snorkeling.

Menyelam ke dalam laut tentunya memang menyenangkan. Termasuk bagi tim kamfung digital ini. Mulai dari foto underwater, kapal yang saling nabrak karena ombak yang luamayan gede, sampai ikan beracun. Lihatlah mereka, begitu menikmati liburan.

IMG_1411

IMG_1433

IMG_1442

DSCN8709 DSCN8631

Saya sendiri lebih banyak berada di pinggiran, dan diatas kapal, sambil jepret-jepret. Selain memang gak pandai berenang, saya ingin menikmati liburan dengan cara sendiri.

Hampir lebih dari tiga jam teman-teman ini menyelam di bawah laut, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga akhirnya pada jam lima sore kami menyudahi aksi ini.

Atraksi berikutnya adalah rebutan kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya dua kamar mandi yang tersimpan di dalam penginapan yang kami tingali dan berbanding dengan 13 orang yang datang dari kamfung digital.

Memasuki senja, rumah penginapan hanya tertinggal saya dan Hasan yang memilih untuk tidur, sementara itu 11 orang lainnya mencoba untuk menikmati sunset.

Jpeg

Entah apalah ini, apakah namanya sunset?

20.00 wib

Setelah disajikan makan malam, semuanya kembali kasur. Ada yang main smartphonenya, ada yang becandaan, ada yang nonton tv, saya tidak mampu merekam semua itu, namun saya dan Boim memilih untuk saling tukar pendapat tentang pergerakan politik d tahun 2019 nanti. Pertarungan antara Jokowi-Ahok-Ridwan Kamil akan semakin seru. Mulai berbicara tentang ambisi mamak banteng dan adanya isu perpecahan tim transisi yang ikut membantu Jokowi memenangkan pilpres 2014.

Sementara itu Reza mencoba untuk menidurkan dirinya sendiri, dan tiba-tiba….

Jpeg

Kami menghadiri acara barbekyu di pantai perawan. Karena suasananya sudah malam, beberapa anak-anak lebih banyak banyak menunggu di pondokan sambil bermalas-malasan, sementara itu yang lainnya masih antusias dengan foto-foto. Meskipun berbeda, ya begitulah teman, mereka yang mencoba menikmati liburan dengan cara berbeda.

Sampai pada akhirnya saya mendegarkan lagu karaoke dari (Alm) Chrisye – Seperti yang Kau Minta. Lagu ini masih terngiang-ngiang, setidaknya hingga saat saya menuliskan ini di blog.

Pulang-pulang berbadan dua kami sampai jam 10 malam. Hujan yang rintik-rintik menemani perjalanan pulang. Setelah sampai, saya, Boim dan Reza masih berbincang-bincang sebentar, dan tentu saja ada peristiwa lucu.

Ketika sampai Boim mencium bau kotoran kucing yang menyengat dan setidaknya hampir semua orang mencium bau tersebut. Saat duduk di teras penginapan melintas sebuah kucing di depan kaki Boim, dan kemudian, Hasan “Gabur” membuat pernyataan yang cukup kontroversial yaitu “kotoran kucing masih tersimpan di bagian pantat si kucing”

Mendegar hal tersebut Boim langsung kaget dan memang benar-benar mengira bahwa kotoran kucing tersebut mash tersimpan di bagian pantatnya, padahal itu adalah biji kucing. Reza langsung merespon dan menganggpnya sangat lucu. Setidaknya ia mengakui bahwa ia masih terkenang momen itu hingga saat ini.

Buat Reza ini lucu banget, buat boim ini lucu dan buat saya ini gitu deh.

Entah jam berapa matahari mulai menunjukkan wajahnya di ufuk timur, namun sekitar jam lima pagi, suara Adam adalah suara yang paling pertama saya dengar. Sunrise!

Dermaga pagi itu sudah mulai diserbu oleh beberapa teman-teman dari kamfung digital. Beberapa diantaranya menyerbu dermaga tak berujung untuk melihat penampakan matahari dan kemudian dadah-dadah. Sayang, cuaca dan semesta tidak mendukung.

Saya memilih berjalan ke ujung bebatuan sendiri, mencoba mencari tempat untuk mengambil beberapa gambar. Tiba-tiba Adam datang bersama tongsis pinjamannya. Kami akhirnya memilih foto levitasi. Random.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Beberapa teman-teman masih duduk di pinggir sisi lain dari dermaga. Masih berharap melihat sunrise yang tak kunjung datang. Akhirnya, dari pada duduk-duduk saja, yang lainnya ikut berfoto levitasi. Arif, Pacul, Roland, Mbak Meta, Galuh, Diaz, dan Hasan “Gaburr” bergantian mengambil foto levitasi.

Setelah capek, saya pulang ke penginapan lebih awal. Beberapa teman-teman masih di dermaga. Tiduran sebentar, dan kemudian satu suara anak-anak dari kamfung digital memilih untuk bermain-main di pantai.

Sebelumnya sarapan nasi goreng dulu.

Saat berada di pantai perawan, sebenarnya sudah gak ada yang mau basah-basahan lagi, namun beberapa anak-anak masih berbasah-basahan dengan menaiki semacam sampan dan selfie.

IMG_0897

20150426_091214_5

Sekitar jam 10 kami kembali ke penginapan. Baru saja sampai, tour guide dan pihak dari pemilik perjalanan ini datang mengatakan, bahwa kapal untuk pulang ke Jakarta sudah stand-by di dermaga.

Sekali lagi terjadi konflik, di kamar mandi.

13 Orang berebut dua kamar mandi. Hal ini membuat beberapa pengorbanan terjadi, Roland dan Pacul misalnya, memilih untuk mandi MCK yang berada di dermaga, tidak jauh dari penginapan. Sementara itu, yang lainnya berebut kamar mandi secara bergantian, namun tertib.

Setelah semuanya selesai dengan peralatan dan menempatkan tas di dalam kapal, kami siap melaju. Reza, saya dan beberapa anak terlihat mencoba minum antimo. Bukan, bukan karena kami mabuk laut, namun “antimo adalah obat tidur yang dilegalkan”, begitu kata Boim.

Saya sudah tidak bisa lagi merekam apa saja yang terjadi saat kami berada di kapal pulang menuju Jakarta. Saya tertidur.

Perjalanan yang biasa saja, dan tentang bagaimana cara kami menikmati liburan. Namun, mereka, karena teman itu seperti ini.

20150426_084935_5

DSCN8607

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s