Re-Frame

{"focusMode":0,"deviceTilt":-0.03418582305312157,"macroEnabled":false,"whiteBalanceProgram":0,"extendedExposure":false,"customExposureMode":0,"qualityMode":3}

Pada satu hari, saya sedang mengutak-atik roll film mana yang sudah saya pakai dan belum cetak. Tujuannya sederhana, agar saya kembali mengingat apa yang sudah difoto dan kemudian ditandai, mana yang menjadi prioritas, dan mana yang dalam waiting list untuk develop di studio.

Kemudian, seorang teman menepuk bahu dan berkata kepada saya “Masih asik aja main analog, Ham? Jangan lupa istirahat,” ujarnya sambil berlalu.

IMG_0569
Analog

Saya enggak ngerti dia ngomong apa, lah wong kamera analog ini udah diaktifkan lagi sekitar satu setengah tahun yang lalu.

Kamera analog ini yang jadi andalan untuk ditenteng kemana-mana sekarang. Sebenarnya ada dua, satu lagi ada di rumah sakit, dan belum diambil-ambil sampai sekarang. Mungkin ini adalah salah satu hobi terboros saya saat ini.

Tapi saya enggak ngerti dengan kalimat “jangan lupa istirahat” dari si teman tadi. Ya sudah, mungkin maksudnya jangan terlalu lama-lama “berisitirahat” dengan kamera analog ini sambil bersantai memotret berbagai macam objek yang random.

Oh, ya beberapa teman juga sering bertanya kenapa saya sekarang getol bermain dengan kamera analog. Jawabannya saya juga gak tahu. Asik aja gitu, agak capek sih ngatur ini-itunya dulu sebelum motret yang bisa menghilangkan momen yang bisa saja lewat hanya dalam hitungan detik. Ya tapi itulah serunya sih, meskipun kita gak bisa mengulang momen itu lagi.

Even, momen itu sebenarnya bukan bermaksud untuk diulang.

IMG_0507
Braun SR Kodak Color Plus 200 

*Note: Satu foto diatas contoh yang diambil pake kamera analog saya. Siapa yang bisa mengulang momen ini? Mereka berdua? Kamera? 

Paradoks. Sebuah kesimpulan yang kita ambil sendiri hanya berdasarkan proposisi dan kemudian bertolak belakang dengan kenyataan yang seharusnya.

Banyak yang bilang, bahwa kamera analog yang menggunakan jenis film yang berbeda-beda untuk mengembalikan gambaran yang seolah-olah terlihat di masa lalu. Ah, tidak juga. Tidak analogi seperti itu.

Mengutip lirik lagu The Script ” If i can turn back time”

No. Kita tidak bisa lagi memutar waktu. Paradoks.

Sama seperti secuil scene The Avengers: Civil War.

Tony Stark Pemeran Iron Man menciptakan satu alat khusus yang bisa mengembalikan memori masa lalunya. Bahkan Tony Stark membuat ceritanya sendiri. Sayangnya, cerita itu tidak pernah terjadi.

Dan di akhir scene, Tony mengungkapkan “Just Re-frame”

 

 

2 tanggapan untuk “Re-Frame

  1. Terus kenapa yg di rumah sakit belom diambil hehhehee
    Boros beli isi film gak bs ngambil yg gi di opname.. hohh..
    Btw itu hasil foto kmrn… di edit kah? Atau mank hasilnya gitu.. warnanya masa lampau sekalihhh..

    Suka

    1. Biarin aja, terlalu banyak kenangan disana, biar dia pulih dulu, meskipun entahlah.

      Kalau udah pake analog sih udah gak perlu di edit lagi. Biarin apa adanya aja. Palign edit, mainin saturasi aja sik

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s