Mencerna Sebuah Kehilangan

 

 

“Just want a way of keeping you inside

All I know
All I know
Is that I’m lost
In your fire below
All I know
Is that I love you so
So much that it hurts”

*Coldplay -Ink

Setiap orang tentunya pasti pernah merasa kehilangan. Jika berbicara itu sebuah benda mati, maka kehilangan tersebut biasanya dapat diganti. Tapi bagaimana rasanya kehilangan tersebut merupakan makhluk hidup. Tumbuhan misalnya?

“Ah, nanti juga tumbuh lagi.”

Dan beragam jawaban lainnya akan muncul dan memudahkannya menjadi sebuah hal sederhana. Jawaban klisenya, “ah itu masa lalu.” Bagaimana ketika kehilangan itu muncul lagi? Mungkin saja bukan objek yang sama, tapi ya tetap saja kehilangan.

Saya pun pernah kehilangan. Semua orang pernah kehilangan. Namun, dibalik semua itu pastinya ada memori yang membekas. Oh btw, bukan Tuhan (siapa pun Tuhan-Nya) yang menempatkan memori itu. Itu sifat dasar manusia yang punya akal dan pikiran.

Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup tersebut bernama kucing. Sekitar satu tahun yang lalu, entah siapa dan bagaimana ini dimulai. Seekor kucing kampung sering main ke kos. Sebenarnya gak ada yang peduli. Dan saking gak pedulinya, kucing ini sedang mengandung anak dari seekor kucing lainnya.

00190009

Mbak-mbak yang jagain kos-an pun terkadang mempersilahkan si kucing ini masuk. Ah, satu lagi si kucing ini diberi nama Onet oleh si mbak-mbak yang jagain kos. Sementara kucing Jantan diberi nama Baron, karena tampangnya yang sangat garang.

Sampai pada akhirnya si kucing bernama Onet ini melahirkan anaknya di dalam kos, dan kembar! Di tempat yang gelap. Tentu saja, anak-anak kucing ini tumbuh karena dilindungi dan disusui oleh sang Ibu bernama Onet.

Singkat cerita, anak-anak kucing ini pun tumbuh menjadi kucing-kucing kecil yang lucu. Selain itu si mbak yang jaga kos-kosaan juga memberi nama dua kucing kecil dan lucu ini Apin (jantan) dan Pangki (Betina). Awalnya banyak yang tidak terlalu memperhatikan, termasuk saya kucing-kucing kecil ini. Tapi ya karena lucu, tiba-tiba bisa naik tangga dan masuk ke kamar, cuma buat bangunin saya di pagi hari dengan suaranya.

Lama-lama, tentu saja pola serta tingkah laku lucu dari kucing ini membuat semua penghuni kos menjadi terhibur. Entah kadang-kadang cuma guling-guling dilantai pengen dielus-elus, atau nyangkut di depan pintu kamar pun pernah.

Sampai pada akhirnya di bulan Juli, Apin akhirnya wafat. Tidak jelas kenapa Apin Wafat. Hanya saja saat subuh, saat saya masih belum tidur dan mencoba mencari udara segar di pagi hari, saya menemukan Apin tergeletak di halaman kos-kosan. Diduga penyebab wafatnya adalah ketabrak.

Apin pun dikuburkan, dan hanya tersisa Pangki. Seiring perjalanan waktu, Pangki pun berubah menjadi kucing yang bertambah umurnya. Terlihat lebih gemuk, dan tentu saja menjadi kucing pemalas, karena kerjaanya cuma makan dan tidur. Meskipun hanya tersisa Pangki dan Onet, namun yang punya kos-kosan serta mbak-mbak yang jaga kos-kosan tetap sayang sama ini kucing.

Sampai pada akhirnya beberapa bulan kemudian, Ibu si kucing Onet meninggal. Ditemukan oleh tetangga dengan mulut berbusa. Dan tentu saja diduga bukan karena overdosis. Hanya berselang satu hari, giliran Pangki yang wafat, karena kegilas mobil.

Pernah merasakan kehilangan seseorang yang disayangi?

Setelah pastinya kalian pernah merasakan kehilangan, pastinya kehilangan kucing ini pun dirasakan sangat besar. Bukan, bukan hanya oleh penghuni kos-kosan atau anak-anak kos yang lain. Tapi Baron. Kucing jantan yang merupakan bagian dari keluarga Onet, Apin dan Pangki. Hanya Baron yang tersisa saat ini.

img_0136

Kamu tahu rasanya sedih kehilangan seseorang yang pernah disayangi?

Mungkin itu yang dirasakan Baron. Di hari pertama Onet wafat, Baron ini kerjanya ngeong-ngeong doang. Bolak-balik dari dapur, keluar lewat jendela, balik ke dapur lagi, muter-muter gak jelas.

Bahkan pernah saya menemukannya di depan pagar rumah saat malam hari. Seperti ingin bertemu lagi dengan Onet dan anak-anaknya. Mungkin itu gambaran yang bisa dilihat langsung bagaima aketika seorang kucing kehilangan kucing lainnya. Meskipun binatang, lantas bukan berarti mereka tidak punya akal dan pikiran.

Selayaknya makhluk hidup yang diberikan kemampuan berpikir dan merasakan, mungkin sisi kehilangan seekor kucing terhadap kucing-kucing yang disayanginya adalah sebuah pesan.

“Serupa, tertatih-tatih di tepi jalan curam. Berkaca dalam pantulan air kusam

Mencari retak yang bisa diperbaiki, serpihan yang masih dicari

Karena tempat pulang dari sebuah kerinduan adalah ingatan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s